Selasa, 04 November 2014

Caring Dalam Keperawatan



CARING DALAM KEPERAWATAN
            Perawat , sampai saat ini masih banyak orang  menganggap perawat adalah pekerjaan pembantu . Pembantu pasien , pembantu dokter , padahal semuanya tidak seperti itu . Masih banyak pula orang meremehkan pekerjaan perawat , padahal jika ingin tahu lebih dalam bagaimana pekerajannya pasti yang menganggap itu akan menyesal . Perawat adalah pekerjaan yang mulia , siapa teman pasien saat dia dirawat di rumah sakit ? siapa yang akan membantunya ? siapa yang mendengarkan keluhannya ? Perawatlah yang seperti itu . Perawat adalah sebuah profesi sekarang , sama halnya dengan dokter , bahkan yang lebih mengetahui keadaan pasien adalah perawat , dokter haya memeriksanya jika perawat memberikan catatan mengenai pasien , apa yang terjadi pada pasien dari hari ke hari waktu ke waktu , dokter menetahui itu semua melalui keterangan perawat . Siapa yang bekerja lebih lama ? Pastilah perawat karena mereka bekerja dan harus selalu ada 24 jam nonstop .
            Tentu saja itu semua membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi . Menjadi seorang perawat harus mempunyai tingkat kesabaran yang extra dalam menghadapi keluhan pasien .
Tingkat kesabaran seseorang berbeda-beda saat melayani pasien yang sedang sakit.  Pengalaman ilmu untuk menolong sesama memerlukan kemampuan khusus dan juga tingkat kepedulian sosial yang besar ( Abdalati,1989).
Jika masih ada perawat yang membuang muka atu memasang muka jutek saat bertemu pasien tentulah dia belum bisa menjadi perawat yang sesungguhnya . Dalam hal menangani pasien dibutuhkan perawat yang caring , dalam perawat yang caring pasti itulah perawat holistic .
            Caring dan holistic adalah satu paket . Jika perawat sudah menerapkan caring dalam dirinya , pasti mereka juga bisa menjadi perawat yang holistic . Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berpikir, berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan dipelajari di berbagai filosofi dan perspektif etik. Etika dalam Caring juga sangat di perlukan . Dengan praktik berbicara dengan pasien saja sudah ada etikanya , bahasa tubuhnya , kontak mata , semua diatur demi kelancaran etika seorang perawat saat usahanya dalam Caring . Jangan sampai pasien menganggap lebih perilaku caring perawat tersebut . Karena mengingat pasien adalah tanggung jawabnya dan semua yang di lakukan adalah semata-mata demi kesembuhan pasien. Human Care terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan dan menjaga orang lain dalam membantu menemukan arti dari sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk meingkatkan pengetahuan dan pengendalian diri. Human care merupakan  hal yang paling mendasari dalam teori caring menurut Pasquali dan Arnold (1989) serta Watson (1979).    
            Dalam menerapkan sikap caring perawat bisa meingkatkan perubahan positif bagi pasien dalam aspek fisik , psikologis , spiritual dan social . Dengan itu perawat sudah menerapkan perawat yang holistic juga dalam melakukan pekerjaannya . Perawat dan pasien juga harus bekerja sama dalam hal lingkungan dan esensi keperawatan . Perawat merawat pasien hingga dia sembuh , pasien juga harus menurut dengan perawat dan dokter jika dia ini sembuh . Oleh karena itulah dalam menjalankan profesinya menimbulkan hubungan timbal balik antara pasien dan perawat.  Para perawat dapat diminta untuk merawat , namun tidak dapat diperintah untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit caring.
            Spirit Caring harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam. Spirit Caring bukan hanya memperlihatkan apa yang di kerjakannya , bukan hanya dari luarnya saja namun juga harus menunjukkan siapa dia . Misalkan saja dalam menangani masalah pada pasien yang masih anak-anak yang mengidap gangguan mental . Anak yang seperti itu pasti akan cederung menarik diri , bahkan anak dengan gangguan mental seperti itu bisa berjam-jam asik dengan dirinya sendiri serta kegiatan yang disukainya daripada kontak langsung dengan orang lain . Dengan adanya permasalahan seperti itu peran perawat sangat penting untuk bisa menarik perhatian anak tersebut . Perawat harus bisa masuk ke dalam dunianya dan mengikuti kemauannya ,namun tidak semuanya keinginan itu dipenuhi . Perawat harus membatasinya dan mengajaknya belajar membaca , berbicara , menjawab pertanyaan orang , mengajarkannya pelajaran agama . Perawat harus bisa merawat anak tersebut dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut , jika perawat saja sudah tidak mau untuk melakukan itu semua lebih baik tidak perlu dipaksakan . Karena jika dalam menangani hal trsebut saja sudah tidak ada niatan dari hati makan apa yang dikerjakan akan sia-sia saja dan tidak meimbulkan perubahan positif .
            Pemeriksaan melalui fisik juga perlu guna mendapatkan data yang obyektif dari riwayat klien . Pemeriksaan fisik sebaiknya dilaksanakan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik yang dilakukan perawat adalah pada kemampuan fungsional klien. Sebagai perawat yang holistic juga memerlukan pemeriksaan melalui fisik dengan tujuan  menentukan status kesehatan klien , mengidentifikasi asalah kesehatan da mengambill data dasar untuk menentukan rencana tindakan keperawatan.  Pendekatan fisik ini dapat menggunakan 4 cara seperti  Head To Toe ( Kepala ke Kaki ) pendekatan ini dilakuka mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki . Mulai dari keadaan umum , tanda-tanda vital , wajah mata , telinga hidung , mulut dan tenggorokan , leher , dada , paru , jantung , abdomen , ginjal , punggung , genetalia , rectum , ektremitas . Yang kedua yaitu bisa menggunakan cara Review of System pengkajian yang dilakukan mencakup seluruh system tubuh  mencakup system pernapasan , kardiovaskuler , persyarafan , perkemihan , pencernaan , musculoskeletal dan integument dan reproduksi . Yang ke tiga yaitu Pola fungsi kesehatan Gordon (1982) Perawat mengumpulkan data secara sistematis dengan mengevaluasi pola fungsi kesehatan dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus meliputi : persepsi kesehatan-penatalaksanaan kesehatan, nutrisi-pola metabolisme, pola eliminasi, pola tidur-istirahat, kognitif-pola perseptual, peran-pola berhubungan, aktifitas-pola latihan, seksualitas-pola reproduksi, koping-pola toleransi stress, nilai-pola keyakinan. Lalu yang terakhir DOENGOES (1993) Mencakup seperti aktivitas / istirahat, sirkulasi, integritas ego, eliminasi, makanan dan cairan, hygiene, neurosensori, nyeri / ketidaknyamanan, pernafasan, keamanan, seksualitas, interaksi sosial, penyuluhan / pembelajaran.
            Melihat dari segi spiritualnya , perawat bisa memberikan perhatian seperti mengingatkan pasien untuk beribadah , dan mengingatkan lagi betapa pentingnya peran Tuhan disaat keadaan sakit seperti itu . Lalu dari segi sosialnya perawat juga harus mampu memberikan pandangan dunia luar , dan memperhatikan keadaan social sang pasien sendiri jadi dari situlah perawat mampu untuk menjaga dirinya dan juga keadaan pasiennya.
            Dengan perilaku caring terhadap pasien akan  menimbulkan rasa nyaman pada pasien dan juga perawat itu sendiri . Dengan teliti dan dengan seksama perawat memperhatikan pasiennya , demi kesembuhan pasien dan kenyamanan pasien di rumah sakit . Dengan menerapkan perilaku caring sendiri perawat juga mampu menunjukan kualitas dirinya dan juga kualitas tempat dia bekerja . Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal . caring bukan semata mata perilaku , caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Jadi perawat adalah sebaik-baiknya manusia di dunia jika mereka mampu memberikan caring dan menunjukkan kesejatiannya .














DAFTAR PUSTAKA

Macam Pemeriksaan Fisik Dalam Keperawatan . E-book. Di akses pada 21 Desember 2013.
Dwidiyanti,Meidiana.(2008).Konsep “caring”, komunikasi ,etik dan aspek spiritual dalam 
               pelayanan keperawatan.Semarang : Hasani.






Kebutuhan Aman dan Nyaman



BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Setiap manusia pasti mempunyai pengalaman sehat sakit. Ketika  dalam keadaan  sakit , berarti tubuh mengalami gangguan dan tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dalam keadaan seperti ini, pasien  membutuhkan bantuan orang lain. Di sinilah peran perawat sangat diperlukan untuk  mengembalikan keadaan tubuh agar dapat berjalan stabil dan sehat seperti sedia kala.
            Pada awalnya perawat dalam melaksanakan tugas-tugas keperawatannya, tidak menggunakan pedoman dasar.  Akan tetapi  seiring dengan berkembangnya zaman, berkembanglah pula ilmu keperawatan. Dan dengan berjalannya waktu, muncullah proses keperawatan.  Proses keperawatan merupakan pendekatan ilmiah dalam menyelesaikan masalah keperawatan. Proses keperawatan ini  mempunyai  struktur yang praktis dengan penggunaan pengetahuan dan ketrampilkan yang dimiliki oleh seorang  perawat. Proses inilah yang  digunakan oleh perawat ketika merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat kepada pasien sangat mempengaruhi kesembuhan pasien. Oleh karena itu, perawat harus benar-benar memahami proses keperawatan, yang meliputi pengkajian data, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
            Dalam makalah ini, kami lebih menekankan pada tahap implementasi. Pada tahap implementasi ini, perawat melaksanakan  tindakan yang telah  direncanakan pada tahap sebelumnya untuk mencapai keadaan yang lebih baik.

B.            Tujuan
1.      Mengetahui definisi dari implementasi keperawatan
2.      Mengetahui definisi protokol dan standing order
3.      Mengetahui pengimplementasian  intervensi keperawatan
4.      Mengetahui proses implementasi
5.      Mengetahui komponen yang didokumentasikan dalam implementasi









BAB II
PEMBAHASAN
A.Definisi Implementasi
Implementasi adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasilyang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan disesuaikan. (potter & perry, 2005).
 Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegitan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang digambarkan (Gordon,1994, dalam potter & perry, 1997).
 Implementasi adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.(rohmah & walid, 2008)
Implementasi mencangkup melakukan, membantu atau mengarahkan aktifitas kehidupan sehari-hari, dan juga memberikan arahan perawatan untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien, mengevaluasi kerja anggota staf dan mencatat serta pertukaran informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan berkelanjutan dari klien. Implementasi adalah bersinambungan dan intraktif dengan komponen lain dari proses keperawatan.
Dalam implementasi tindakan keperawatan memerlukan beberapa pertimbangan, yaitu :
1.      Individualitas klien, dengan mengkomunikasikan makna dasar dari suatu implementasi keperawatan yang akan dilakukan.
2.      Melibatkan klien dengan mempertimbangkan energi yang dimiliki, seperti adanya penyakit, hakikat stresor, keadaan psiko-sosio-kultural, pengertian terhadap penyakit dan interverensi.
3.      Pencegahan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi.
4.      Mempertahankan kondisi tubuh agar penyakit tidak menjadi lebih parah serta upaya peningkatan kesehatan.
5.      Upaya rasa aman dan bantuan dan bantuan kepada klien dalam memenuhi kebutuhannya.
6.      Penampilan perawat yang bijaksana dari segala kegiatan yang dilakukan kepada klien.

Pedoman pelaksanaan implementasi keperawatan (kozier et al,. 1995) :
1.      Berdasarkan  respons klien
2.      Berdasarkan ilmu pengetahuan, hasil penelitian keperawatan, standar pelayanan profesional, hukum dan kode etik keperawatan.
3.      Berdasarkan penguna dan sumber-sumber yang tersedia.
4.      Sesuai dengan tanggung jawab dan tanggung gugat profesi keperawatan.
5.      Mengerti dengan jelas rencana pesanan-pesanan yang ada dalam rencana intervensi keperawatan.
6.      Harus bisa menciptakan adaptasi dengan klien sebagai individu dalam upaya meningkatkan peran serta untuk merawat diri sendiri.
7.      Menekankan pada aspek pencegahan dan upaya meningkatkan status kesehatan.
8.      Dapat menjaga rasa aman, harga diri dan melindungi klien.
9.      Memberikan dukungan, dan bantuan.
10.  Bersifat holistik.
11.  Kerjasama dan profesional.
12.  Melakukan dokumentasi.
Menurut craven dan Himle (2000) ada tiga kategori implementasi yaitu :
1.      Cognitive implementations, yaitu meliputi pengajaran/pendidikan, menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup sehari-hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi komunikasi memberikan lingkungan sesuai kebutuhan.
2.      Interpersonal implementations, meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan, meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik, menetapkan jadwal personal, mengungkapkan perasaan, memberikan dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan lain-lain.
3.      Technical implementations, meliputi pemberian perawatan kebersihan kulit, melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan dari dasar klien, mengorganisasi respon klien yang abnormal, melakukan tindakan keperawatan yang mandiri, kolaborasi, dan rujukan.
Dalam melakukan  implementasi keperawatan, perawat dapat melakukan sesuai dengan rencana keperawatan dan jenis implementasi keperawatan, dalam pelaksanaannya terdapat tiga jenis implementasi keperawatan, antara lain :
1.      Independent implementations, adalah implementasi yang diprakarsai sendiri oleh perawat  untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya sesuai dengan kebutuhan, misalnya: membantu memenuhi activity daily living (ADL), memberikan perawatan diri, mengatur posisi tidur menciptakan lingkungan yang terapeutik, memberikan dorongan motivasi, pemenuhan kebutuhan psiko-sosial-spiritual, perawatan alat invasive yang dipergunakan klien, melakukan dokumentasi, dan lain-lain.
2.      Interdependen/ Collabotative implementations, adalah tindakan keperawatan dasar kerjasama sesama tim keperawatan atau dengan tim kesehatan lainnya, seperti dokter. Contohnya dalam pemberian obat oral,obat injeksi, infus, kateter urin, dan lain-lain. Keterkaitannya misalnya dalam pemberian obat injeksi, jenis obat, dosis, dan efek samping merupakan tanggung jawab dokter . tetapi kebenaran obat, ketetapan jadwal, ketepatan cara pemberian, ketetapan dosis, dan ketetapan klien serta respon klien setelah pemberian merupakan tanggung jawab perawat.
3.      Dependent implementations, adalah keperawatan atas dasar rujukan dari profesi lain, seperti ahli gizi, physioterapi, psikolog dan sebagainya. Misalnya dalam hal pemberian nutrisi pada klien sesuai dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi, latihan fissik sesuai anjuran fisioterapi.


B.Protokol dan Standing Orders
           
Protokol adalah rencana tertulis yang menguraikan prosedur yang harus diikuti selama perawatan klien dengan kondisi atau situasi klinis tertentu, seperti perawatan klien pascaoperatif.(potter & perry,2005). Protokol menjelaskan dimana perawat diijinkan untuk mengatasinya, seperti mengendalikan hipertensi, dan tipe pengobatan dimana perawat diizinkan untuk melakukan, seperti imunisasi bayi sehat, dan juga bisa digunakan untuk interdisiplin untuk pemeriksaan diagnostik fisik, terapi okupasi, dan wicara.
            Standing order adalah dokumen yang mengandung instruksi untuk melakukan terapi rutin untuk klien spesifik dengan masalah klinis yang telah diidentifikasi.(potter & perry 2005). Standing Order disahkan da ditandatangini oleh dokter yang bertanggung jawab dalam perawatan sebelum perawatan tersebut di implementasikan . Perawatan tersebut biasanya terjadi dalam lingkungan perawatan kritis dimana kebutuhan klien dapat berubah dengan cepat dan membuuthkan segera. Standing order juga umum dalam lingkungan kesehatan komunitas , dimana perawat menghadapi situasi yang tidak memungkinkan kontak segara dengan dokter.


C. Pengimplementasian Intervensi Dalam Keperawatan

Perawat memilih intervensi keperawatan dengan metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan :
1.      Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
2.      Mengonsulkan dan menyuluh klien dalam keluarganya
3.      Memberi asuhan keperawatan langsung
4.      Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggotan staff lainnya
Adapun fase-fase dalam intervensi yang berlangsung dalam tiga tahap . Fase yang pertama yaitu fase persiapan yang mencakup pengetahuan mengenai validasi rencana , implmentasi rencana , persiapan klien dan keluarga . fase yang kedua yaitu puncak implementasi keperawatan yang berorientasi pada tujuan . Pada fase yang kedua ini perawat berusaha menyimpulkan data yang berhubbungan dengan reaksi klien . Kemudian fase yang ketiga merupakan terminasi perawat dengan klien setelah implementasi selesai dilakukan.
D. Proses Implementasi

1.      Mengkaji ulang klien
Pengkajian adalah suatu proses yang berkelanjutan , yang mungkin di fokuskan pada satu dimensi atau sistem . Fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai.
2.      Menelaah dan Memodifikasi Rencana Asuhan Keperawatan yang Ada
Meskipun rencana asuhan keperawatan telah dikembangkan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang teridentifikasi selama pengkajian , perubahan dalam status klien mungkin mengharuskan memodifikasi asuhan keperawatan yang telah direncanakan . Modifikasi rencana asuhan yang telah ada mencakup beberapa langkah :
a.       Data dalam kolom pengkajian direvisi sehingga mencerminkan status terbaru klien , kemudian diberi tanggal untuk menginformasikan anggota tim perawat kesehatan yang lain tentang waktu dimana terjadi perubahan
b.      Diagnosa keperawatan direvisi . Diagnosa keperawatan yang tidaak relevan dihapuskan dan yang baru di tambahakan dan diberi tanggal . Karena status klien berubah dan kebutuhannya juga berubah maka tujuan dan prioritas harus di revisi .
c.       Metode implementasi spesifik direvisi untuk menghubungkan dengan diagnosa keperawatan yang baru , revisi ini mencerminkan status klien saat ini.
d.      Perawat mengevaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan maka perlu direvisi kembali terhadap rencana asuhan .

3.      Mengidentifikasi Bidang Bantuan
Beberapa situasi dalam asuhan keperawatan mengharuskan perawat untuk mencari bantuan . Bantuan tersebut dapat berupa tambahan tenaga , pengetahuan , maupun keterampilan keperawatan . Sebelum mengimplementasikan asuhan , perawat harus mengevaluasi rencana untuk menentukan kebutuhan bantuan dan tipe yang dibutuhkan .

4.      Mengimplementasikan Intervensi Keperawatan
Perawat memilih intervensi keperawatan dengan metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan :
a.       Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
b.      Mengonsulkan dan menyuluh klien dalam keluarganya
c.       Memberi asuhan keperawatan langsung
d.      Mengawasi dan mengevaluasi kerja anggotan staff lainnya

E. Metode  Implementasi
1. Membantu dalam aktifitas kehidupan sehari-hari
    Aktifitas yang biasanya dilakukan dalam sepanjang hari normal mencakup ambulasi, makan, berpakaian, mandi, menyikat gigi dan berhias. Kondisi yang mengakibatkan  kebutuhan untuk bantuan dalam aktifitas sehari-hari dapat bersifat akut, kronis, temporer, permanen, atau rehabilitatif. Klien dengan kerusakan mobilitas akibat gips lengan bilateral mempunyai kebutuhan terhadap bantuan yang bersifat sementara. Setelah gips dilepaskan klien akan secara bertahap kembali menjalani tanggung jawab untuk aktifitas sehari-hari.
2. Konseling
  Adalah metode implementasi yang membantu klien menggunakan proses pemecahan masalah untuk mengenali dan menangani stres dan yang memudahkan hubungan interpersonal dianatara klien, keluarganya, dan tim perawat kesehatan. Banyak tehnik konseling digunakan untuk memelihara pertumbuhan kognitif, perilaku, perkembangan, eksperimental, dan emosional pada klien. Konseling mendrong individu untuk meneliti ketersediaan alternatif untuk memutuskan pilihan mana yang bermanfaat dan sesuai. Klien atau keluarga yang membutuhkan konseling termasuk orang yang harus menyesuaikan pola gaya hidup, seperti berhenti merokok, penurunan berat badan, atau peningkatan aktifitas.
3. Penyuluhan
   Berkaitan dengan konseling, keduanya mencakup ketrampilan berkomunikasi untuk menimbulkan perubahan dalam klien. Pada penyuluhan terfokus dari perubahan adalah perubahan intelektual atau mendapatkan pengetahuan atau ketrampilan psikomotor baru (Redman, 1993). Sebagai tanggung jawab keperawatan penyuluhan diimplementasikan pada semua lingkup perawatan kesehatan seperti di unit perawatan akut, perawat bertanggung jawab untuk mengkaji kebutuhan pembelajaran klien dan bertanggung gugat terhadap kualitas edukasi yang diberikan.
4. Memberikan asuhan keperawatan langsung
  Untuk mencapai tujuan terapeutik bagi klien, perawat melakukan intervensi untuk mengompensasi reaksi yang merugikan, denagan menggunakan tindak pencegahan yang preventif dalam memberikan asuhan, menerapkan teknik yang tepat dalam memberikan asuhan dan menyiuapkan klien untuk prosedur spesifik, dan melakukan tindakan yang menyelamatkan jiwa dalam situasi darurat.
a. kompensasi untuk tindakan yang merugikan
            suatu reaksi yang merugikan adalah efek yang membahayakan atau efek yang tidak diinginkan dari medikasi, pemeriksaan diagnostik, atau intervensi terapeutik. Ketika merawat klien yang akan menjalani atau harus menjalani pemeriksaan diagnostik tertentu, perawat harus memahami pemeriksaan dan segala potensial efek yang merugikan.  Sebagai contoh, klien tidak defekasi dalam 24 jam setelah mendapat anema barium. Karena pengerasan fases adalah potensial efek samping dari anema barium, perawat meningkatkan masukan cairan dan mengintruksikan klien untuk memberitahukan tenaga keperawatan kapan terjadi defekasi.

b. tindakan preventif
diarahkan pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit untuk menghindari perawatan rehabilitatif akut atau kronis.prevensi mencangkup pengkajian dan promosi potensi kesehatan klien, penerapan tindakan yang diharuskan seperti imunisasi, penyuluhan kesehatan, dan diagnosa dini serta pengobatan dini. Tindakan keperawatan preventif digunakan untuk memenuhi tujuan terapeutik klien. Melalui tindakan preventif perawat mampu untuk membantu klien mendapatkan tingkat kesejahteraan yang tinggi.
c. teknik tepat dalam memberikan perawatan dan menyiapkan klien untuk prosedur
untuk menjalankan prosedur, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang prosedur itu sendiri, frekuensi, langkah-langkah dan hasil yang diharapkan. Di rumah sakit perawat menyelesaikan banyak prosedur setiap hari.
d. tindakan menyelamatkan jiwa
diterapkan ketika keadaan fisiologis dan psikologis klien terancam. Tujuannya adalah untuk memulihkan keseimbangan fisiologis atau psikologis. Tindakannya termasuk memberikan medikasi darurat, melakukan resusitas kardiopulmonal, merestrain klien yang mengalami konfusi atau klien dengan tindak kekerasan, dan mendapatkan konseling segera dari pusat. Krisis untuk klien yang sangat gelisah.
e. mencapai tujuan keperawatan
tujuan perawat klien dapat dicapai dengan memberikan suatu lingkungan yang kondusif untuk memenuhi tujuan tersebut; menyesuaikan perawat berdsasarkan kebutuhan klien yang ditunjukan atau diekspresikan; menstimulasi atau memotivasi klien , ini dapat memampukan mereka mencapai keperawatan diri dan kemandirian; dan mendorong klien untuk menerima perawatan dan mematuhi program pengobatan.
5.  
Perawat yang mengembangkan rencana keperawatan sering kali tidak melakukan semua intervensi keperawatan, beberapa intervensi mungkin didelegasikan kepada anggota tim kepeerawatan lainnya.
F.   Dokumentasi implementasi

Komponen dalam dokumentasi implementasi:
1.      Nomor diagnose
Mulailah mencatat dokumentasi keperawatan dengan mencantumkan nomor diagnose keperawatan yang akan ditindaki.
2.      Waktu pelaksanaan
Tulis dengan jelas waktu pemberian tindakan tersebut yang meliputi jam, hari, dan tanggal pelaksanan tindakan.
3.      Tindakan yang dilakukan
-       Tulis nomor urut tindakan
-       Tindakan dituliskan berdasarkan urutan pelaksanaan tindakan
-       Tulislah tindakan yang dilakukan beserta hasil / respon klien dengan jelas
-       Jangan lupa menuliskan nama / jenis obat, dosis, cara memberikan dan istruksi medis yang lain dengan jelas.
-       Jangan menuliskan istilah “sering, kecil, besar” / istilah lain yang menimbulkan persepsi berbeda atau rancu.
-       Untuk tindakan pendidikan kesehatan tulislah ‘melakukan pendidikan kesehatan tentang., laporan pendidikan kesehatan terlampir.
-       Bila pendidikan kesehatan dilakukan secara singkat tulislah tindakan dan respon paien setelah pendidikan kesehatan dengan jelas.
2.      Paraf dan nama pemberi tindakan
Tulis nama terang dari pemberi tindakan disertai dengan paraf atau tanda tangan.










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan