Selasa, 04 November 2014

Caring Dalam Keperawatan



CARING DALAM KEPERAWATAN
            Perawat , sampai saat ini masih banyak orang  menganggap perawat adalah pekerjaan pembantu . Pembantu pasien , pembantu dokter , padahal semuanya tidak seperti itu . Masih banyak pula orang meremehkan pekerjaan perawat , padahal jika ingin tahu lebih dalam bagaimana pekerajannya pasti yang menganggap itu akan menyesal . Perawat adalah pekerjaan yang mulia , siapa teman pasien saat dia dirawat di rumah sakit ? siapa yang akan membantunya ? siapa yang mendengarkan keluhannya ? Perawatlah yang seperti itu . Perawat adalah sebuah profesi sekarang , sama halnya dengan dokter , bahkan yang lebih mengetahui keadaan pasien adalah perawat , dokter haya memeriksanya jika perawat memberikan catatan mengenai pasien , apa yang terjadi pada pasien dari hari ke hari waktu ke waktu , dokter menetahui itu semua melalui keterangan perawat . Siapa yang bekerja lebih lama ? Pastilah perawat karena mereka bekerja dan harus selalu ada 24 jam nonstop .
            Tentu saja itu semua membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi . Menjadi seorang perawat harus mempunyai tingkat kesabaran yang extra dalam menghadapi keluhan pasien .
Tingkat kesabaran seseorang berbeda-beda saat melayani pasien yang sedang sakit.  Pengalaman ilmu untuk menolong sesama memerlukan kemampuan khusus dan juga tingkat kepedulian sosial yang besar ( Abdalati,1989).
Jika masih ada perawat yang membuang muka atu memasang muka jutek saat bertemu pasien tentulah dia belum bisa menjadi perawat yang sesungguhnya . Dalam hal menangani pasien dibutuhkan perawat yang caring , dalam perawat yang caring pasti itulah perawat holistic .
            Caring dan holistic adalah satu paket . Jika perawat sudah menerapkan caring dalam dirinya , pasti mereka juga bisa menjadi perawat yang holistic . Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berpikir, berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan dipelajari di berbagai filosofi dan perspektif etik. Etika dalam Caring juga sangat di perlukan . Dengan praktik berbicara dengan pasien saja sudah ada etikanya , bahasa tubuhnya , kontak mata , semua diatur demi kelancaran etika seorang perawat saat usahanya dalam Caring . Jangan sampai pasien menganggap lebih perilaku caring perawat tersebut . Karena mengingat pasien adalah tanggung jawabnya dan semua yang di lakukan adalah semata-mata demi kesembuhan pasien. Human Care terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan dan menjaga orang lain dalam membantu menemukan arti dari sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk meingkatkan pengetahuan dan pengendalian diri. Human care merupakan  hal yang paling mendasari dalam teori caring menurut Pasquali dan Arnold (1989) serta Watson (1979).    
            Dalam menerapkan sikap caring perawat bisa meingkatkan perubahan positif bagi pasien dalam aspek fisik , psikologis , spiritual dan social . Dengan itu perawat sudah menerapkan perawat yang holistic juga dalam melakukan pekerjaannya . Perawat dan pasien juga harus bekerja sama dalam hal lingkungan dan esensi keperawatan . Perawat merawat pasien hingga dia sembuh , pasien juga harus menurut dengan perawat dan dokter jika dia ini sembuh . Oleh karena itulah dalam menjalankan profesinya menimbulkan hubungan timbal balik antara pasien dan perawat.  Para perawat dapat diminta untuk merawat , namun tidak dapat diperintah untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit caring.
            Spirit Caring harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam. Spirit Caring bukan hanya memperlihatkan apa yang di kerjakannya , bukan hanya dari luarnya saja namun juga harus menunjukkan siapa dia . Misalkan saja dalam menangani masalah pada pasien yang masih anak-anak yang mengidap gangguan mental . Anak yang seperti itu pasti akan cederung menarik diri , bahkan anak dengan gangguan mental seperti itu bisa berjam-jam asik dengan dirinya sendiri serta kegiatan yang disukainya daripada kontak langsung dengan orang lain . Dengan adanya permasalahan seperti itu peran perawat sangat penting untuk bisa menarik perhatian anak tersebut . Perawat harus bisa masuk ke dalam dunianya dan mengikuti kemauannya ,namun tidak semuanya keinginan itu dipenuhi . Perawat harus membatasinya dan mengajaknya belajar membaca , berbicara , menjawab pertanyaan orang , mengajarkannya pelajaran agama . Perawat harus bisa merawat anak tersebut dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut , jika perawat saja sudah tidak mau untuk melakukan itu semua lebih baik tidak perlu dipaksakan . Karena jika dalam menangani hal trsebut saja sudah tidak ada niatan dari hati makan apa yang dikerjakan akan sia-sia saja dan tidak meimbulkan perubahan positif .
            Pemeriksaan melalui fisik juga perlu guna mendapatkan data yang obyektif dari riwayat klien . Pemeriksaan fisik sebaiknya dilaksanakan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik yang dilakukan perawat adalah pada kemampuan fungsional klien. Sebagai perawat yang holistic juga memerlukan pemeriksaan melalui fisik dengan tujuan  menentukan status kesehatan klien , mengidentifikasi asalah kesehatan da mengambill data dasar untuk menentukan rencana tindakan keperawatan.  Pendekatan fisik ini dapat menggunakan 4 cara seperti  Head To Toe ( Kepala ke Kaki ) pendekatan ini dilakuka mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki . Mulai dari keadaan umum , tanda-tanda vital , wajah mata , telinga hidung , mulut dan tenggorokan , leher , dada , paru , jantung , abdomen , ginjal , punggung , genetalia , rectum , ektremitas . Yang kedua yaitu bisa menggunakan cara Review of System pengkajian yang dilakukan mencakup seluruh system tubuh  mencakup system pernapasan , kardiovaskuler , persyarafan , perkemihan , pencernaan , musculoskeletal dan integument dan reproduksi . Yang ke tiga yaitu Pola fungsi kesehatan Gordon (1982) Perawat mengumpulkan data secara sistematis dengan mengevaluasi pola fungsi kesehatan dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus meliputi : persepsi kesehatan-penatalaksanaan kesehatan, nutrisi-pola metabolisme, pola eliminasi, pola tidur-istirahat, kognitif-pola perseptual, peran-pola berhubungan, aktifitas-pola latihan, seksualitas-pola reproduksi, koping-pola toleransi stress, nilai-pola keyakinan. Lalu yang terakhir DOENGOES (1993) Mencakup seperti aktivitas / istirahat, sirkulasi, integritas ego, eliminasi, makanan dan cairan, hygiene, neurosensori, nyeri / ketidaknyamanan, pernafasan, keamanan, seksualitas, interaksi sosial, penyuluhan / pembelajaran.
            Melihat dari segi spiritualnya , perawat bisa memberikan perhatian seperti mengingatkan pasien untuk beribadah , dan mengingatkan lagi betapa pentingnya peran Tuhan disaat keadaan sakit seperti itu . Lalu dari segi sosialnya perawat juga harus mampu memberikan pandangan dunia luar , dan memperhatikan keadaan social sang pasien sendiri jadi dari situlah perawat mampu untuk menjaga dirinya dan juga keadaan pasiennya.
            Dengan perilaku caring terhadap pasien akan  menimbulkan rasa nyaman pada pasien dan juga perawat itu sendiri . Dengan teliti dan dengan seksama perawat memperhatikan pasiennya , demi kesembuhan pasien dan kenyamanan pasien di rumah sakit . Dengan menerapkan perilaku caring sendiri perawat juga mampu menunjukan kualitas dirinya dan juga kualitas tempat dia bekerja . Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal . caring bukan semata mata perilaku , caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Jadi perawat adalah sebaik-baiknya manusia di dunia jika mereka mampu memberikan caring dan menunjukkan kesejatiannya .














DAFTAR PUSTAKA

Macam Pemeriksaan Fisik Dalam Keperawatan . E-book. Di akses pada 21 Desember 2013.
Dwidiyanti,Meidiana.(2008).Konsep “caring”, komunikasi ,etik dan aspek spiritual dalam 
               pelayanan keperawatan.Semarang : Hasani.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar