CARING
DALAM KEPERAWATAN
Perawat , sampai saat
ini masih banyak orang menganggap
perawat adalah pekerjaan pembantu . Pembantu pasien , pembantu dokter , padahal
semuanya tidak seperti itu . Masih banyak pula orang meremehkan pekerjaan
perawat , padahal jika ingin tahu lebih dalam bagaimana pekerajannya pasti yang
menganggap itu akan menyesal . Perawat adalah pekerjaan yang mulia , siapa
teman pasien saat dia dirawat di rumah sakit ? siapa yang akan membantunya ?
siapa yang mendengarkan keluhannya ? Perawatlah yang seperti itu . Perawat
adalah sebuah profesi sekarang , sama halnya dengan dokter , bahkan yang lebih
mengetahui keadaan pasien adalah perawat , dokter haya memeriksanya jika
perawat memberikan catatan mengenai pasien , apa yang terjadi pada pasien dari
hari ke hari waktu ke waktu , dokter menetahui itu semua melalui keterangan
perawat . Siapa yang bekerja lebih lama ? Pastilah perawat karena mereka
bekerja dan harus selalu ada 24 jam nonstop .
Tentu saja itu semua membutuhkan tingkat kesabaran yang
tinggi . Menjadi seorang perawat harus mempunyai tingkat kesabaran yang extra
dalam menghadapi keluhan pasien .
Tingkat
kesabaran seseorang berbeda-beda saat melayani pasien yang sedang sakit. Pengalaman ilmu untuk menolong sesama
memerlukan kemampuan khusus dan juga tingkat kepedulian sosial yang besar (
Abdalati,1989).
Jika masih ada perawat
yang membuang muka atu memasang muka jutek saat bertemu pasien tentulah dia
belum bisa menjadi perawat yang sesungguhnya . Dalam hal menangani pasien dibutuhkan
perawat yang caring , dalam perawat yang caring pasti itulah perawat holistic .
Caring dan holistic adalah satu paket . Jika perawat
sudah menerapkan caring dalam dirinya , pasti mereka juga bisa menjadi perawat
yang holistic . Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara
seseorang berpikir, berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang
lain. Caring dalam keperawatan dipelajari di berbagai filosofi dan perspektif
etik. Etika dalam Caring juga sangat di perlukan . Dengan praktik berbicara
dengan pasien saja sudah ada etikanya , bahasa tubuhnya , kontak mata , semua
diatur demi kelancaran etika seorang perawat saat usahanya dalam Caring .
Jangan sampai pasien menganggap lebih perilaku caring perawat tersebut . Karena
mengingat pasien adalah tanggung jawabnya dan semua yang di lakukan adalah
semata-mata demi kesembuhan pasien. Human Care terdiri dari upaya untuk
melindungi, meningkatkan dan menjaga orang lain dalam membantu menemukan arti
dari sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk
meingkatkan pengetahuan dan pengendalian diri. Human care merupakan hal yang paling mendasari dalam teori caring
menurut Pasquali dan Arnold (1989) serta Watson (1979).
Dalam menerapkan sikap caring perawat bisa meingkatkan
perubahan positif bagi pasien dalam aspek fisik , psikologis , spiritual dan
social . Dengan itu perawat sudah menerapkan perawat yang holistic juga dalam
melakukan pekerjaannya . Perawat dan pasien juga harus bekerja sama dalam hal
lingkungan dan esensi keperawatan . Perawat merawat pasien hingga dia sembuh ,
pasien juga harus menurut dengan perawat dan dokter jika dia ini sembuh . Oleh
karena itulah dalam menjalankan profesinya menimbulkan hubungan timbal balik
antara pasien dan perawat. Para perawat
dapat diminta untuk merawat , namun tidak dapat diperintah untuk memberikan
asuhan dengan menggunakan spirit caring.
Spirit Caring harus tumbuh dari dalam diri perawat dan
berasal dari hati perawat yang terdalam. Spirit Caring bukan hanya
memperlihatkan apa yang di kerjakannya , bukan hanya dari luarnya saja namun
juga harus menunjukkan siapa dia . Misalkan saja dalam menangani masalah pada
pasien yang masih anak-anak yang mengidap gangguan mental . Anak yang seperti
itu pasti akan cederung menarik diri , bahkan anak dengan gangguan mental
seperti itu bisa berjam-jam asik dengan dirinya sendiri serta kegiatan yang
disukainya daripada kontak langsung dengan orang lain . Dengan adanya
permasalahan seperti itu peran perawat sangat penting untuk bisa menarik
perhatian anak tersebut . Perawat harus bisa masuk ke dalam dunianya dan
mengikuti kemauannya ,namun tidak semuanya keinginan itu dipenuhi . Perawat
harus membatasinya dan mengajaknya belajar membaca , berbicara , menjawab
pertanyaan orang , mengajarkannya pelajaran agama . Perawat harus bisa merawat
anak tersebut dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut , jika perawat saja
sudah tidak mau untuk melakukan itu semua lebih baik tidak perlu dipaksakan . Karena
jika dalam menangani hal trsebut saja sudah tidak ada niatan dari hati makan
apa yang dikerjakan akan sia-sia saja dan tidak meimbulkan perubahan positif .
Pemeriksaan melalui fisik juga perlu guna mendapatkan
data yang obyektif dari riwayat klien . Pemeriksaan fisik sebaiknya
dilaksanakan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik yang dilakukan
perawat adalah pada kemampuan fungsional klien. Sebagai perawat yang holistic
juga memerlukan pemeriksaan melalui fisik dengan tujuan menentukan status kesehatan klien ,
mengidentifikasi asalah kesehatan da mengambill data dasar untuk menentukan
rencana tindakan keperawatan. Pendekatan
fisik ini dapat menggunakan 4 cara seperti
Head To Toe ( Kepala ke Kaki
) pendekatan ini dilakuka mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki
. Mulai dari keadaan umum , tanda-tanda vital , wajah mata , telinga hidung ,
mulut dan tenggorokan , leher , dada , paru , jantung , abdomen , ginjal ,
punggung , genetalia , rectum , ektremitas . Yang kedua yaitu bisa menggunakan
cara Review of System pengkajian
yang dilakukan mencakup seluruh system tubuh
mencakup system pernapasan , kardiovaskuler , persyarafan , perkemihan ,
pencernaan , musculoskeletal dan integument dan reproduksi . Yang ke tiga yaitu
Pola fungsi kesehatan Gordon (1982) Perawat mengumpulkan data
secara sistematis dengan mengevaluasi pola fungsi kesehatan dan memfokuskan
pengkajian fisik pada masalah khusus meliputi : persepsi
kesehatan-penatalaksanaan kesehatan, nutrisi-pola metabolisme, pola eliminasi,
pola tidur-istirahat, kognitif-pola perseptual, peran-pola berhubungan,
aktifitas-pola latihan, seksualitas-pola reproduksi, koping-pola toleransi
stress, nilai-pola keyakinan. Lalu yang terakhir DOENGOES (1993)
Mencakup seperti aktivitas / istirahat, sirkulasi, integritas ego, eliminasi,
makanan dan cairan, hygiene, neurosensori, nyeri / ketidaknyamanan, pernafasan,
keamanan, seksualitas, interaksi sosial, penyuluhan / pembelajaran.
Melihat dari segi spiritualnya , perawat bisa memberikan
perhatian seperti mengingatkan pasien untuk beribadah , dan mengingatkan lagi
betapa pentingnya peran Tuhan disaat keadaan sakit seperti itu . Lalu dari segi
sosialnya perawat juga harus mampu memberikan pandangan dunia luar , dan
memperhatikan keadaan social sang pasien sendiri jadi dari situlah perawat
mampu untuk menjaga dirinya dan juga keadaan pasiennya.
Dengan perilaku caring terhadap pasien akan menimbulkan rasa nyaman pada pasien dan juga
perawat itu sendiri . Dengan teliti dan dengan seksama perawat memperhatikan
pasiennya , demi kesembuhan pasien dan kenyamanan pasien di rumah sakit .
Dengan menerapkan perilaku caring sendiri perawat juga mampu menunjukan
kualitas dirinya dan juga kualitas tempat dia bekerja . Marriner dan Tomey
(1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari
praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal . caring bukan semata
mata perilaku , caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan.
Jadi perawat adalah sebaik-baiknya manusia di dunia jika mereka mampu
memberikan caring dan menunjukkan kesejatiannya .
DAFTAR PUSTAKA
Macam Pemeriksaan Fisik Dalam Keperawatan . E-book. Di akses pada 21 Desember 2013.
Dwidiyanti,Meidiana.(2008).Konsep “caring”, komunikasi ,etik dan aspek
spiritual dalam
pelayanan keperawatan.Semarang : Hasani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar